Selasa, 13 Oktober 2009

Kedudukan Guru

Ringkasan
1. Kedudukan Guru
2. Beberapa Ketrampilan Mengajar
Mata Kuliah : Pengantar Pendidikan
Dosen : Dra Suharni M. Pd.






Disusun oleh :
Teguh Wibowo
NIM : 08144600117


Program Studi Pendidikan Guru Sekolah Dasar
Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan
Universitas PGRI Yogyakarta
2008
KEDUDUKAN GURU

A. Makna Guru
Guru adalah orang yang memeberikan ilmu pengetahuan kepada anak didik. Dalam pandangan masyarakat adalah orang yang melaksanakan pendidikan ditemat-tempat tertentu, tidak mesti di lembaga pendidikan formal, tetapi bisa jiga di masjid, di musolla, di rumah dan sebagainya. Masyarakat yakin bahwa gurulah yang dapat mendidik mereka agar menjadi orang yang berkepribadian mulia.
Tugas guru tidak hanya sebatas dinding sekolah, tetapi juga diluar sekolah. Pembinaan yang harus diberikan puntidak hanya kelompok ( klasikal), tetapi juga secara individual. Dengan kata lain guru adalah semua orang yang berwenang dan bertanggung jawab untuk membimbing dan membina anak didik, baik secara individual maupun klasikal, di sekolah maupun di luar sekolah.

B. Persyaratan Guru
Menjadi guru menurut Prof. Dr. Zakiah Daradjat (1992 : 41) harus memenuhi beberapa persyaratan seperti di bawah ini :
1. Taqwa kepada Allah swt.
Guru, sesuai dengan tujuan ilmu pendidikan islam, tidak mungkin mendidik anak didik agar bertaqwa kepada Allah, jika ia sendiri tidak bertaqwa kepadaNya. Sebab ia adalah teladan bagi anak didiknya sebgaimana Rosulullah saw menjadi teladan bagi umatnya.
2. Berilmu
Guru pun harus mempunyai ijazah agar ia diperbolehkan mengajar. Kecuali dalam keadaan darurat, misalnya jumlah anak didik sangat menigkat sedangkat jumlah guru jauh dari mencukupi, maka terpaksa menyimpang untuk sementara, yakni menerima guru yang belum berijazah. Tetapi dalam keadaan normal ada patokan bahwa makin tinggi pendidikan guru makin baik pendidikan dan pada gilirannya makin tinggi pula derajat masyarakat.
3. Sehat Jasmani
Kesehatan jasmani kerapkali dijadikan salah satu syarat bagi mereka yang melamar untuk menjadi guru. Guru yang mengidap penyakit menular, umpamanya sangat membahayakan anak didiknya. Di samping itu guru yang berpenyakit tidak akan bergairah dalam mengajar.

4. Berkelakuan Baik
Budi pekerti guru penting dalam pendidikan watak anak didik. Guru harus menjadi teladan karena anak-anak bersifat suka meniru. Di antara tujuan pendidikan adalah membentuk akhlak yang mulia pada diri pribadi anak didik dan ini hanya mungkin dapat dilakukan jika pribadi guru berakhlak mulia pula. Yang dimaksud dengan akhlak mulia adalah akhlak yang sesuia dengan ajaran Islam, seperti mencintai jabatannya sebagai guru, bersikap adil terhadap semua anak didiknya, berlaku sabar dan tenang, berwibawa, gembira, bersifat manusiawi, bekerjasama dengan guru-guru lain, bekerjasama dengan masyarakat.

C. Tanggung Jawab Guru
Guru adalah orang yang bertanggung jawab mencerdaskan kehidupan anak didik. Pribadi susila yang cakap adalah yang diharapkan ada pada diri setiap anak didik. Untuk itulah guru dengan penuh dedikasi dan loyalitas berusaha membimbing dan membina anak didiknya agar dimasa yang akan dating menjadi orang yang berguna bagi nusa dan bangsa.
Sesungguhnya guru yang bertanggung jawab memiliki beberapa sifat, yang menurut Wens Tanlain dan kawan-kawan (1989 : 31) ialah :
1. Menerima dan mematuhi norma, nilai-nilai kemanusiaan.
2. Memikul tugas mendidik dengan bebas, berani, gembira (tugas bukan menjadi beban baginya).
3. Sadar akan nilai-nilai yang berkaitan dengan perbuatannya serta akibat-akibat yang timbul (kata hati).
4. Menghargai orang lain, termasuk anak didik.
5. Bijaksana dan hati-hati (tidak nekat, tidak sembrono, tidak singkat akal).
6. Taqwa terhadap Tuhan Yang Maha Esa.

D. Tugas Guru
Guru mempunyai kekuasaan untuk membentuk dan membangun kepribadian anak didik menjadi seorang yang berguna bagi agama, nusa dan bangsa. Guru bertugas mempersiapkan manusai susila yang dapat diharapkan membanguun dirinya dan membangun bangsa dan Negara. Dan dalam kenyataannya tugas guru antara lain :
a. Tugas guru sebagai suatu profesi menuntut kepada guru untuk mengembangkan profesionalitas diri sesuai dengan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi. Mendidik, mengajar dan melatih anak didik adalah tugas guru sebagai suatu profesi.
b. Tugas guru sebagai pendidik berarti meneruskan dan mengembangkan nilai-nilai hidup kepada anak didik.
c. Tugas guru sebagai pengajar berarti meneruskan dan mengembangkan ilmu pengetahuan dan teknologi kepada anak didik.
d. Tugas guru sebagai pelatih berarti mengembangkan ketrampilan dan menerapkannya dalam kehidupan demi masa depan anak didik.
e. Tugas kemanusiaan salah satu segi dari tugas guru. Guru harus menanamkan nilai-nilai kemanusiaan kepada anak didik. Dengan begitu anak didik dididik agar mempunyai sifat kesetiakawanan social.
f. Di bidang kemasyarakatan merupakan tugas yang juga tidak kalah pentingnya. Pada bidang ini guru mempunyai tugas mendidik dan mengajar masyarakat untuk menjadi warga negara Indonesia yang bermoral Pancasila.

E. Kepribadian Guru
Setiap guru mempunyai pribadi masing-masing sesuai dengan ciri-ciri pribadi yang mereka miliki. Kepribadian sebenarnya adalah suatu masalah yang abstrak, hanya dapat dilihat lewat penampilan, tindakan, ucapan, cara berpakaian, dan dalam menghadapi persoalan.
Kepribadian adalah keseluruhan dari individu yang terdiri dari unsur psikis dan fisik. Kepribadian guru akan tercermin dalam sikap dan perbuatannya dalam membina dan membimbing anak didik. Sebagai teladan, guru harus memiliki kepribadian yang dapat dijadikan profil dan idola, seluruh kehidupannya adalah figure yang paripurna. Itulah kesan terhadap guru sebagai sosok yang ideal. Profil guru yang ideal adalah sosok yang mengabdikan diri berdasarkan panggilan jiwa, panggilan hati nurani, bukan karena tuntutan uang belaka, yang membatasi tugas dan tanggung jawabnya sebatas dinding sekolah

F. Peranan Guru
1. Korektor
Sebagai korektor, guru harus bisa membedakan mana nilai yang baik dan nilai yang buruk.
2. Inspirator
Sebagai inspirator, guru harus dapat memberikan ilham yang baik bagi kemajuan belajar anak didik. Guru harus dapat memberikan petunjuk (ilham) bagaimana cara belajar yang baik.
3. Informator
Sebagai informatory, guru harus dapat memberikan informasi perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi, selain sejumlah bahan pelajaran untuk setiap mata pelajaran yang telah diprogramkan dalam kurikulum.
4. Organisator
Sebagai organisator, adalah sisi lain dari peranan yang diperlukan dari guru. Dalam bidang ini guru memiliki kegiatan pengelolaan kegiatan akademik, menyusun tata tertib sekolah, menyusun kalender akademik, dan lain-lain. Semua diorganisasikan sehingga dapat mencapai efektifitas dan efisiensi dalam belajar pada diri anak didik.
5. Motivator
Sebagai motivator, guru hendaknya dapat mendorong anak didik agar bergairah dan aktif belajar.
6. Inisiator
Sebagai inisiator, guru harus dapat menjadi pencetus ide-ide kemajuan dalam pendidikan dan pengajaran. Proses interaksi edukatif yang ada sekarang harus diperbaiki sesuai perkembangan ilmu pengetahan dan teknologi di bidang pendidikan. Kompetensi guru harus diperbaiki sesuai kemajuan media komunikasi dan informasi abad ini.
7. Fasilitator
Sebagai fasilitator, guru hendaknya dapat menyediakan fasilitas yang memungkinkan kemudahan kegiatan belajar anak didik. Lingkungan belajar yang tidak menyenangkan, suasana ruang kelas yang pengap, meja dan kursi yang berantakan, fasilitas belajar yang kurang tersedia, menyebabkan anak didik malas belajar.


8. Pembimbing
Peranan sebagai pembimbing harus lebih dipentingkan, karena kehadiran guru di sekolah adalah untuk membimbing anak didik menjadi manusia dewasa susila yang cakap. Tanpa bimbingan anak didik akan mengalami kesulita dalam menghadapi perkembangan dirinya.
9. Demonstrator
Untuk bahan pelajaran yang sukar dipahami oleh anak didik, guru harus berusaha dengan membnatunya, dengan cara memperagakan apa yang diajarkan secara didaktis, sehingga apa yang guru inginkan sejalan dengan pemahaman anak didik, tidak terjadi kesalahan pengertian antara guru dan anak didik.

10. Pengelola Kelas
Sebagai pengelola kelas, guru hendaknya dapat mengelola kelas dengan baik, karena kelas adalah tempat berhimpun semua anak didik dan guru dalam rangka menerima bahan pelajaran dari guru. Kelas yang dikelola dengan baik akan menunjang jalannya interaksi edukatif. Sebaliknya kelas yang tidak dikelola dengan baik akanmenghambat kegiatan pengajaran. Anak didik tidka mustahil akan merasa bosan untuk tinggal lebih lama di kelas.
11. Mediator
Sebagai mediator, guru hendaknya memiliki pengetahun dan pemahaman yang cukup tentang media pendidikan dalam berbagai bentuk dan jenisnya, baik media non material maupun meteriil. Media berfungsi sebagai alat komunikasi guna mengekfektifkan proses interaksi edukatif. Sebagai mediator, guru dapat diartikan sebagai penengah dalam proses belajar anak didik.
12. Supervisor
Sebagai supervisor, guru hendanya dapat membantu, memperbaiki, dan menilai kritis terhadap proses pengajaran. Teknik-teknik supervise harus guru kuasai dengan baik agar dapat melakukan perbaikan terhadap situasi belajar mengajar menjadi lebih baik.
13. Evaluator
Sebagai evaluator, guru dituntut untuk menjadi seorang evaluator yang baik dan jujur dengan memberikan penialian yang menyentuh aspek ekstrinsik dan intrinsik. Penilaian terhadap aspek intrinsik lebih menyentuh pada kepribadian anak didik, yakni aspek nilai (values). Penilaian terhadap anak didik tentu lebih diutamakan daripada penilaian terhadap jawaban anak didik ketika diberikan tes. Anak didik yang berprestasi belum tentu memiliki kepribadian yang baik. Jadi, penilaian itu pada hakekatnya diarahkan pada perubahan kepribadian anak didik agar menjadi manusia susila yang cakap.
Sebagai evaluator, guru tidak hanya menilai produk (hasil pengajaran), tetapi juga enilai proses (jalannya pengajaran). Dari kedua kegiatan ini akan mendapatkan umpan balik (feedback) tentang pelaksanaan interaksi edukatif yang telah dilakukan.
G. Kode Etik Guru
Etika artinya tata susila (etika) atau hal-hal yang berhubungan dengan kesusilaan dalam mengerjakan suatu pekerjaan. Jadi, “kode etik guru” diartikan sebagai “aturan tata susila keguruan”. Menurut Westby Gibson, kode etik (guru) dikatakan sebagai suatu statemen formal yang merupakan norma (aturan tata susila) dalam mengatur tingkah laku guru.
Berikut akan dikemukakan kode etik guru Indonesia sebagai hasil rumusan kongres PGRI XIII di Jakarta :
1. Guru berbakti membimbing anak didik seutuhnya untuk membentuk manusia pembangunan yang ber-Pancasila.
2. Guru memiliki kejujuran professional dalam nenerapkan kurikulum sesuai kebutuhan anak didik masing-masing.
3. Guru mengadakan komunikasi, terutama dalam memperoleh informasi tentang anak didik, tetapi menghindarkan diri dari segala bentuk penyalahgunaan.
4. Guru menciptakan suasana kehidupan sekolah dan memelihara hubungan dengan orang tua anak didik sebaik-baiknya demi kepentingan anak didik.
5. Guru memelihara hubungan baik dengan masyarakat disekitar sekolahnya maupun masyarakat yang lebih luas untuk kepentingan pendidikan.
6. Guru sendiri atau bersama-sama berusaha mengembangkan dan meningkatkan mutu profesinya.
7. Guru menciptakan dan memelihara hubungan antara sesama guru, baik berdasarkan lingkungan kerja maupun dalam hubungan keseluruhan.
8. Guru secara hokum bersama-sama memelihara, membina, dan meningkatkan mutu organisasi professional sebagai sarana pengabdiannya.
9. Guru melaksanakan segala ketentuan yang merupakan kebijaksanaan pemerintah dalam bidang pendidikan.





















BEBERAPA KETRAMPILAN DASAR MENGAJAR

A. Ketrampilan Memberi Pengutan (Reinforcement)
Dalam kehidupan sehari-hari kita mengenal adanya “hadiah” . Pemberian hadiah tersebut secara psikologis akan berpengaruh terhadap tingkah laku seseorang. Demikian juga halnya dengan hukuman yang diberikan seseorang karena teah mencuri, menyontek, tidak mengerjakan tugas dan lain-lain yang pada dasarnya juga akan berpengaruh terhadap tingkah laku orang yang menerima hukuman. Baik pemberian hadiah maupun pemberian hukuman merupakan respon seseorang kepada orang lain karena perbuatannya.
1. Penguatan di dalam kelas
a. Meningkatkan perhatian siswa dan membantu siswa belajar bila pemberian penguatan digunakan secara selektif.
b. Memberi motivasi kepada siswa.
c. Dipakai untuk mengontrol atau mengubah tingah laku siswa yang mengganggu, dan meningkatkan cara belajar yang produktif.
d. Mengembangkan kepercayaan diri siswa untuk mengatur diri sendiri dalampengalaman belajar.
e. Mengarahkan terhadap pengembangan berpikir yang divergen (berbeda) dan pengambilan inisiatif yang bebas.
2. Aplikasi
Hal yang perlu diperhatikan dalam pemberian penguatan ialah guru harus yakin, bahwa siswa akan menghargainya dan menyadari akan respon yang diberikan guru. Pemberian penguatan dapat dilakukan :
a. Siswa memperhatikan guru, memperhatikan kawan lainnya dan benda yang menjadi tujuan diskusi.
b. Siswa sedang belajar, mengerjakan tugas dari buku, membaca, dan bekerja di papan tulis.
c. Menyelesaikan hasil kerja yang baik.
d. Bekerja dengan kualitas kerja yang baik(kerapian, ketelitian, keindahan, dan mutu materi).
e. Perbaikan pekerjaan (dalam kualitas, hasil atau penampilan).
f. Ada kategori tingkah laku (tepat, tidak tepat, verbal, fisik, dan tertulis).
g. Tugas mandiri (perkembangan pada pengarahan diri sendiri, mengelola tingkah laku sendiri, dan mengambil inisiatif kegiatan sendiri).
3. Pola Penguatan
Pola dasar pemberian penguatan adalah pola berkesinambungan dan pola sebagiansebagian. Penguatan yang berkesinambungan adalah penguatan yang seratus persen dibutuhkan bagi tingkah laku kelas tertentu. Sedangkan penguatan yang sebagian-sebagaian, adalah penguatan yang diberikan terhadap respon tertentu tetapi tidak keselurhan.
4. Komponen pemberian penguatan
a. Penguatan verbal
Pujian dan dorongan yang diucapkan oleh guru untuk respon atau tingkah laku siswa adalah penguatan verbal.
b. Penguatan gestural
Pemberian penguatan gestural sangat erat sekali dengan pemberian penguatan verbal. Ucapan atau komentar yang diberikan guru terhadap respon, tingkah laku, pikiran siswa dapat dilakukan dengan mimik yang cerah, dengan senyum, acungan jempol dan lain-lain. Semua gerakan tubuh tersebut adalah merupakan bentuk pemberian penguatan gestural.
c. Penguatan kegiatan
Penguatan dalam bentuk kegiatan ini banyak terjadi bila guru menggunakan suatu kegiatan atau tugas, sehingga siswa dapat memilihnya sebagai suatu hadiah atas suatu pekerjaan sebelumnya.
d. Penguatan mendekati
Contoh penguatan mendekati berdiri di samping siswa, berjalan dekat siswa, duduk dekat kelompok diskusi, dan berjalan maju.
e. Penguatan sentuhan
Penguatan sentuhan adalah merupakan penguatan yang terjadi bila guru secara fisik menyentuh siswa, misalnya menepuk bahu, berjabat tangan yang semuanya ditujukan untuk pengahrgaan penampilan, tingkah laku atau kerja siswa.
f. Penguatan tanda
Penguatan tanda yang berbentuk tulisan misalnya komentar tertulis terhadap pekerjaan siswa, ijazah, sertifikat, tanda penghargaan yang berupa tulisan.
5. Model penguatan
a. Penguatan seluruh kelompok
Pemberian penguatan kepada seluruh anggota kelompok dalam kelas dapat dilakukan secara terus-menerus.
b. Penguatan yang ditunda
Penundaan penguatan pada umumnya kurang efektif bila dibandingkan dengan pemberian secara langsung. Tetapi penundaan tersebut dapat dilakukan dengan pemberian penjelasan atau isyarat verbal, bahwa penghargaan itu ditunda dan akan diberikan kemudian.
c. Penguatan partial
Penguatan partial sama dengan penguatan sebagian-sebagian atau tidak berkesinambungan, diberi kepada siswa untuk sebagian dari responnya.
d. Penguatan Perorangan
Penguatan perorangan merupakan pemberian penguatan secara khusus, misalnya menyebut kemampuan, penampilan dan nama siswa yang bersangkutn lebih efektif daripada tidak menyebut apa-apa.
6. Prinsip penguatan
a. Hangat dan antusias
Kehangatan dan keantusiasan adalah bagian yang tampak dari interaksi guru-siswa
b. Hindari penggunaan penguatan negative
Walaupun pemberian hukuman adalah efektif untuk dapat mengubah motivasi, penampilan dan tingkah laku siswa namun pemberian itu memiliki akibat yangsangat komplek, dan secara psikologis agak kontaversial, karena itu sebaiknya harus dihindari.
c. Penguatan bervariasi
Pemberian penguatan seharusnya diberikan secara bervariasi baik komponennya maupun caranya, dan diberikan secara hangat dan antusias.
d. Bermakna
Guru menggunakan kalimat : “pekerjaanmu bagus” . Siswa menjadi curiga dan bahkan merasa diejek karena sadar bahwa pekerjaannya tidak bagus. Akibatnya pemberian penguatan menjadi tidak bermakna, karena guru kurang hangat dan antusias.

B. Ketrampilan Bertanya
Kelancaran bertanya (fluency) adalah merupakan jumlah pertanyaan yang secara logis dan relevan diajukan guru kepada siswa di dalam kelas. Pemberian waktu (pausing) untuk berfikir setelah guru bertanya merupakan factor yang penting. Pemberian waktu ini akan menhasilkan beberapa keuntungan di antara siswa yang merespon bertambah, banyak pikiran muncul, siswa berinteraksi antara yang satu dengan yang lainnya, banyak siswa bertanya bertambah, atau guru cenderung meningkatkan variasi bertanya.
1. Penguatan ketrampilan bertanya dasar
a. Tujuan
1) Untuk meningkatkan perhatian dan rasa inign tahu siswa terhadap satu topic.
2) Menfokuskan perhatisn pada suatu konsep masalah tertentu.
3) Mengembangkan belajar secara aktif.
b. Penyusunan kata-kata
Untuk membantu siswa merespon pertanyaan guru, pertanyaan harus disusun dengan kata-kata yang cocok dengan tingkat perkembangan kelompok.
c. Struktur
Selama diskusi berlangsung usahakan guru memberi informasi yang relevan denagn tugas siswa, baik sesudah atau sebelum pertanyaan-pertanyaan.

d. Pemusatan
Ada dua aspek yang dapat diambil dari komponen pemusatan ini. Pertama, terhadap ruang lingkup pertanyaan yangluas (terbuka), atau yang sempit. Kedua, ialah pemusatan jumlah tugas siswa sebagai akibat dari pertanyaan guru.
e. Pindah gilir
Setelah mengajukan pertanyaan untuk seluruh anggota kelas, kemudian guru dapat meminta salah satu siswa untuk menjawabnya dengan cara memanggil namanya atau dengan menunjuk, mengangguk dan senyum.
f. Distribusi
Untuk melibatkan siswa secara langsung dalam pelajaran, disarankan mendistribusikan pertanyaan secara random (acak) selama proses belajar mengajar berlangsung.
g. Pemberian waktu
Tiap siswa berbeda dalam kecepatan merespon pertanyaan dan berbeda pula tingkat kemampuan berbicara secara jelas. Salah satu cara adalah dengan memberi waktu berpikir dalam beberapa detik setelah pertanyaan diajukan kepada seluruh anggota kelas dan sebelum menunjuk siswa tertentu untuk menjawabnya.
h. Hangat dan antusias
Kehangatan dan antusias yang diperlihatkan guru terhadap jawaban siswa, punya arti penting dalam meningkatkan partisipasi siswa dalam pelajaran.
i. Prompting
Adalah cara yang dilakukan guru untuk menuntun (promp) siswa memberikan jawaban dengan baik dan benar atas pertanyaan yang guru ajukan.
j. Pengubahan tuntutan tingkat kognitif
Kebanyakan pertanyaan yang diberikan guru hanya menanyakan fakta. Karenanya masih diperlukan pertanyaan yang menuntut siswa untuk dapat membedakan, menganalisa, dan mengambil keputusan.
k. Hal-hal yang perlu dihindari
1) Mengulangi pertanyaan sendiri
2) Mengulangi jawaban siswa
3) Menjawab pertanyaan sendiri
4) Meminta jawaban serentak

2. Ketrampilan bertanya lanjut
a. Penguatan dalam kelas
1) membantu ketrampilan siswa untuk belajar mengorganisasikan dan mengevaluasi informasi yang diperoleh.
2) Mengingatkan kemampuan siswa dalam menyusun dan mengeluarkan jawaban yang beralasan terhadap pertanyaan guru.
3) Mendorong siswa untuk mengembangkan pikirannya dan cepat mengemukakan pendapat secara tibal balik dengan siswa lain.
4) Memberi kesempatan kepada semua siswa dan guru untuk mendapatkan pengalaman sukses.
b. Variasi taksonomi
1) Recall (mengingat kembali)
2) Pemahaman (comprehention)
3) Aplikasi
4) Analisis
5) Sintetis
6) Evaluasi
c. Pemberian waktu
Pada ketrampilan bertanya lanjut, pemberian waktu memberi arti tambahan dan makna khusus. Pemberian waktu dapat dilakukan dengan dua cara, yakni segera setelah guru bertanya dan setelah siswa memberi jawaban dari pertanyaan yang komplek.
d. Meningkatkan interaksi antara siswa
Guru mempunyai peranan penting dalam meningkatkan saling tukar pendapat antarsiswa. Caranya adalah dengan meminta siswa memberi komentar atau mengembangkan respon pertama.

C. Ketrampilan Variasi
Ketrampilan mengadakan variasi dalam proses belajar mengajar akan meliputi tiga aspek, yaitu :
1. Variasi dalam gaya mengajar
2. Variasi dalam menggunakan media dan bahan pengajaran
3. Variasi dalam interaksi antara guru dengan siswa
Ketrampilan dalam variasi ini lebih luas penggunaannya dari pada ketrampilan lainnya, karena merupakan ketrampilan campuran dengan ketrampilan yang lain.

1. Penguatan dalam kelas
a. Tujuan
b. Prinsip penguatan
2. Komponen variasi
a. Variasi gaya mengajar
1) Variasi suara
2) Penekanan
3) Pemberian waktu
4) Kontak pandang
5) Gerakan anggota badan
6) Pindah posisi
b. Variasi media dan bahan ajaran
1) Variasi media pandang
2) Variasi media dengar
3) Variasi media taktil
c. Variasi interaksi

D. Ketrampilan Menjelaskan
1. Tujuan memberikan penjelasan
2. Alasan perlunya guru menguasai ketrampilan menjelaskan
3. Penguatan dalam kelas
4. Komponen ketrampilan menjelaskan
a. Analisis dan perencanaan penjelasan
1) Isi pesan
2) Penerima pesan
b. Penyajian suatu penjelasan
1) Kejelasan
2) Penggunaan contoh
3) Penekanan
4) Umpan balik

E. Ketrampilan Membuka dan Menutup Pelajaran
1. Penguatan dalam kelas
a. Tujuan
b. Prinsip-prinsip penggunaan
2. Komponen ketrampilan
a. Ketrampilan membuka pelajaran
1) Menarik perhatian dan menimbulkan motivasi
2) Memberi acuan dan membuat kaitan
b. Ketrampilan menutup pelajaran
1) Review
2) Evaluasi

F. Ketrampilan dalam Mengelola Kelas
1. Pengertian
a. Pendekatan kekuasaan
b. Pendekatan ancaman
c. Pendekatankebebasan
d. Pendekatan resep
e. Pendekatan pengajaran
f. Pendekatan pengubahan tingkah laku
g. Pendekatan sosioemsional
h. Pendekatan proses kelompok
i. Pendekatan pluralistic
2. Tujuan
a. Untuk anak didik
b. Untuk guru
3. Prinsip penguatan
a. Hangat dan antusias
b. Tantangan
c. Bervariasi
d. Keluwesan
e. Penekanan pada hal-hal yang positif
f. Penanaman disiplin diri
4. Komponen ketrampilan
a. Ketrampilan yang berhubungan dengan penciptaan dan pemeliharaan kondisi belajar yang optimal (bersifat preventif)
1) Sikap tanggap
2) Membagi perhatian

b. Ketrampilan yang berhubungan dengan pengembangan kondisi belajar yang optimal
1) Modifikasi tingkah laku
2) Guru dapat menggunakan pendekatan pemecahan masalah kelompok dengan cara, memperlancar tugas-tugas (mengusahakan terjadinya kerjasama yang baik dalam pelaksanaan tugas) dan memelihara kegiatan-kegiatan kelompok.
3) Menemukan dan memecahkan tingkah laku yang menimbulkan masalah.

G. Ketrampilan Membimbing Diskusi Kelompok Kecil
1. Kelebihan dan keterbatasan
a. Kelebihan
1) Kelompok memiliki sumber yang lebih banyak daripada individu
2) Anggota kelompok sering diberi masukan dan motivasi dari anggota lain, yang berusaha agar sumbangan pikiran bermanfaat untuk keberhasilan kelompok.
3) Kelompok dapat menghasilkan keputusan yang lebih baik.
4) Anggota kelompok mempunyai ikatan yang kuat terhadap eputusanyang diambil dengan melalui keterlibatannya dalam diskusi.
5) Partisipasi dalam diskusi akan meningkatkan saling pengertian antarindividu dalam satu kelompok dan dalam kelompok yang lain.
b. Keterbatasan
1) Diskusi memakan waktu
2) Pemborosan waktu
3) Diskusi dapat menekan pendirian
2. Penguatan dalam kelas
a. Diskusi harus dilakukan dalam suasana terbuka
b. Perlunya perencanaan yang meliputi;
1) Pemilihan topic atau masalah yang akan didiskusikan
2) Dapat memastikan bahwa guru dan anak didik telah memiliki latar belakang informasi untuk mendiskusikan topic secara baik
3) Diskusi kelompok kecil harus dipersiapkan secara baik
4) Ditetepkan besarnya kelompok
5) Pengaturan tempat duduk.
3. Komponen Ketrampilan
a. Pemusatan perhatian
b. Mengklarifikasi masalah
c. Menganalisis pandangan anak didik
d. Meningkatkan kontribusi
e. Membagi partisipasi
f. Menutup diskusi
g. Hal-hal yang perlu dihindari
1) Menyelenggarakan diskusi dengan topic yang tidak sesuai dengan minat dan latar belakang pengetahuan anak didik
2) Membiarkan diskusi menyimpang jauh karena informasi pendahuluan yang tidak relevan
3) Membiarkan anak didik memonopoli diskusi
4) Gagal berdiskusi karena rendahnya sumbangan pikiran anggota

H. Ketrampilan Mengajar Kelompok Kecil dan Perorangan
1. Rasional
Salah satu cara untuk meningkatkan kadar CBSA (Cara Belajar Siswa Aktif), adalah dengan mengembangkan ketrampilan mengajar kelompok kecil dan perorangan. Ketrampilan ini akan meningkatkan pemahaman guru dan anak didik yang terlibat.
2. Pengertian
Pengajaran perorangn diartikan sebagai suatu proses di mana setiap anak didik dibantu mengembangkan kemajuan dalam mencapai tujuan berdasarkna kemampuan, pendekatan, dan bahan pelajaran.
3. Penguatan dalam kelas
a. Ketrampilan mengadakan pendekatan secara pribadi
b. Ketrampilan mengorganisasi
c. Ketrampilan membimbing dan membantu
d. Ketrampilan kurikulum
e. Aplikasi ketrampilan
1) Situasi kelompok kecil
2) Pengajaran individu

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar